Ayo berbelanja ke Mal SKA Pekanbaru

Ayo berbelanja ke Mal SKA Pekanbaru

Senin, 08 Juni 2015

Hari 8 : "Ceritakan tentang dunia, dari sudut pandang sebuah benda"

‪#‎30HariMenulis2015‬ ‪#‎NulisRandom2015‬



Sebelum mulai bercerita, dari sudut pandang sebuah benda. Saya ingin menyampaikan, bahwa kabar Prilly Latuconsia, baik-baik saja. Segitu aja sih, yuk cap cus.
------
ID Card and the Boy Who Own it

Aku bingung bagaimana harus memulai kisah ini. Oh iya, aku ingat bagaimana pertama kali ia mengusap-usapku, dan mencium aroma khas-ku. Ku rasa, semua orang pastilah setuju, kami memberikan kesan lembut, serta mengeluarkan aroma harum, kali pertama kami dicetak.

Saat itu bulan september, sejak saat itu, aku sudah resmi menjadi miliknya. Sejak saat itu pula, aku selalu dibawa kemana pun ia pergi. Aku banyak bertemu dan mengenal orang-orang baru--Ketua RT, RW, Lurah, Camat, bahkan Walikota. Aku selalu menemaninya ke pertemuan-pertemuan di siang hari--yang menurutku agak sedikit membosankan, aku terpaksa harus mendengar cerita-cerita seputar pemerintahan. Aku rasa, aku dan dia memiliki sifat yang sama, sama-sama tak menyukai dunia politik.

Tak seperti siang hari--ketika aku disematkan di saku bajunya, pada malam hari, aku selalu mendapati diriku berhimpitan dengan benda-benda lain di saku celananya, entah di mana, aku tak pernah tau. Pada satu malam, sepertinya sangat berisik, namun di lain kesempatan, sangat sunyi, aku rasa ia pergi mengasingkan diri atau apa.

Aku boleh saja dengan bangga bilang, bahwa aku termasuk yang paling beruntung diantara teman-teman seumuranku. Bagaimana tidak, di usia hubungan kami yang relatif singkat aku pernah dibawa ikut mendaki gunung Marapi di Sumatera Barat. Aku patut berbesar hati bukan? Maksudku, itu sesuatu yang sangat jarang kami dapatkan, bahkan bagi yang mungkin sudah bertahun-tahun berhubungan erat.

Mari kuceritakan padamu bagaimana rasanya berada di puncak gunung tertinggi di Sumatera Barat. Sangat tenang dan damai, malam itu malam pergantian tahun 2015, aku bisa medengar dentuman bunyi kembang api dari kejauhan di bawah sana, aku juga bisa melihat jalan panjang membentang, yang menghubungi kota Padang.

Segitu saja? Belum, itu belum apa-apa. Aku dibawa berkeliling taman bunga Edelweis--ini jenis bunga yang hanya tumbuh di atas permukaan gunung. Aku melihat kawah, mencium aroma belerang, dan ikut diabadikan pada moment yang tak bisa aku lupakan. Saking bangganya ia memilikiku, tiap kali berfoto, aku selalu diacungkannya tinggi-tinggi, bahkan di hadapan teman-temannya.

Satu hal yang aku sayangkan, para pendaki sepertinya tak lagi peduli pada kebersihan. Aku melihat sendiri sampah-sampah bertebaran, kaleng-kaleng bekas minum, juga bunga-bunga Edelweis yang dibuang setelah dipetik. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku terus bergayut di lehernya.

Oh iya, aku juga masih ingat, bagaimana seru & menegangkannya, saat aku dibawa masuk menelusuri Lobang Jepang, pada bulan Februari. Ini merupakan tempat rekreasi yang harus kau kunjungi saat ke Bukit Tinggi--selain Jam Gadang, tentunya. Kami sempat mewawancari langsung pemandu paling tua di sana, namanya Pak Jasril, aku akan menceritakannya padamu di lain kesempatan.

Huft, sepertinya aku mulai lelah. Mungkin ada baiknya aku rangkumkan saja, tempat-tempat lain yang aku kunjungi. Minang fantasy, ini merupakan Waterpark terbesar di Padang Panjang. Jenjang Seribu, lokasinya tak jauh dari Sianok--kampung halaman ayahnya. Pasar Bawah dan Pasar Ateh. Pokoknya banyak deh. Eh, aku sudah bilang belum ya, kalau aku merasa beruntung dimilikinya?

Tapi kurasa hanya sampai di situlah masa-masa indahku, beberapa waktu setelah itu. Aku tak lagi digunakan--jangan tanyakan aku. Aku tak tau sebabnya. Aku hanya tersimpan di dalam tas selempangnya. Selama di dalam tas, aku sering mencuri dengar kata-kata Lubuk Basung sering dilontarkan. Lagi, aku tak tau apa artinya.

Lama setelah itu, aku merasa seolah dibangunkan dari tidurku yang panjang. Aku sudah hampir mati rasa, aku sudah kehilangan harapan bahwa aku akan kembali digunakan dan dikeluarkan dari tempatku disembunyikan. Tapi secara tiba-tiba, ia menarikku--dan memotretku. Bisakah ia jelaskan padaku, untuk apa?

Sekarang aku kembali bisa melihat dunia luar. Tidakkah ia tau, bahwa aku sangat senang? Mari kuberitahu padamu, aku berada di sebuah kamar kecil seukuran 3x3, kamar ini bersih dan wangi. Di seberang dinding, aku dapat melihat sebuah kalender dengan gambar anak-anak berpakaian gamis. Hey, sekarang sudah bulan Juni ya? Waktu berjalan dengan begitu cepat. Kurasa tak ada salahnya, jika aku berharap ia mengingat ulang tahun pertama pertemuan kami? Ah, aku terlalu berharap.

Dan satu hal lagi, dari tempat aku berada sekarang, aku bisa melihat kalau ia tampak sumringah, sepertinya aku akan kembali dibawa untuk melihat hal-hal yang luar biasa. Aku membayangkan Phuket, Amsterdam, dan oh...... bagaimana mungkin aku tidak kepikiran Mekkah.

Tenang saja, jika semua itu menjadi nyata, kau lah orang pertama yang akan aku ceritakan tentang kemana ia membawaku.

Notes : Tulisan ini didedikasikan untuk rekan-rekan di Inforiau, juga Bang Ical--terima kasih tunjuk ajarnya selama ini. Mapala (Mahasiswa Penggiat Alam) Duri - Riau. Dan Jeprizol? Yunow huyuar >..<

Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar