#30HariMenulis2015 #NulisRandom2015
Sebelum mulai bercerita, dari sudut pandang sebuah benda. Saya ingin
menyampaikan, bahwa kabar Prilly Latuconsia, baik-baik saja. Segitu aja
sih, yuk cap cus.
------
ID Card and the Boy Who Own it
Aku bingung bagaimana harus memulai kisah ini. Oh iya, aku ingat
bagaimana pertama kali ia mengusap-usapku, dan mencium aroma khas-ku. Ku
rasa, semua orang pastilah setuju, kami memberikan kesan lembut, serta
mengeluarkan aroma harum, kali pertama kami dicetak.
Saat itu
bulan september, sejak saat itu, aku sudah resmi menjadi miliknya. Sejak
saat itu pula, aku selalu dibawa kemana pun ia pergi. Aku banyak
bertemu dan mengenal orang-orang baru--Ketua RT, RW, Lurah, Camat,
bahkan Walikota. Aku selalu menemaninya ke pertemuan-pertemuan di siang
hari--yang menurutku agak sedikit membosankan, aku terpaksa harus
mendengar cerita-cerita seputar pemerintahan. Aku rasa, aku dan dia
memiliki sifat yang sama, sama-sama tak menyukai dunia politik.
Tak seperti siang hari--ketika aku disematkan di saku bajunya, pada
malam hari, aku selalu mendapati diriku berhimpitan dengan benda-benda
lain di saku celananya, entah di mana, aku tak pernah tau. Pada satu
malam, sepertinya sangat berisik, namun di lain kesempatan, sangat
sunyi, aku rasa ia pergi mengasingkan diri atau apa.
Aku boleh
saja dengan bangga bilang, bahwa aku termasuk yang paling beruntung
diantara teman-teman seumuranku. Bagaimana tidak, di usia hubungan kami
yang relatif singkat aku pernah dibawa ikut mendaki gunung Marapi di
Sumatera Barat. Aku patut berbesar hati bukan? Maksudku, itu sesuatu
yang sangat jarang kami dapatkan, bahkan bagi yang mungkin sudah
bertahun-tahun berhubungan erat.
Mari kuceritakan padamu
bagaimana rasanya berada di puncak gunung tertinggi di Sumatera Barat.
Sangat tenang dan damai, malam itu malam pergantian tahun 2015, aku bisa
medengar dentuman bunyi kembang api dari kejauhan di bawah sana, aku
juga bisa melihat jalan panjang membentang, yang menghubungi kota
Padang.
Segitu saja? Belum, itu belum apa-apa. Aku dibawa
berkeliling taman bunga Edelweis--ini jenis bunga yang hanya tumbuh di
atas permukaan gunung. Aku melihat kawah, mencium aroma belerang, dan
ikut diabadikan pada moment yang tak bisa aku lupakan. Saking bangganya
ia memilikiku, tiap kali berfoto, aku selalu diacungkannya
tinggi-tinggi, bahkan di hadapan teman-temannya.
Satu hal yang
aku sayangkan, para pendaki sepertinya tak lagi peduli pada kebersihan.
Aku melihat sendiri sampah-sampah bertebaran, kaleng-kaleng bekas minum,
juga bunga-bunga Edelweis yang dibuang setelah dipetik. Aku tak bisa
berbuat apa-apa, aku terus bergayut di lehernya.
Oh iya, aku juga
masih ingat, bagaimana seru & menegangkannya, saat aku dibawa masuk
menelusuri Lobang Jepang, pada bulan Februari. Ini merupakan tempat
rekreasi yang harus kau kunjungi saat ke Bukit Tinggi--selain Jam
Gadang, tentunya. Kami sempat mewawancari langsung pemandu paling tua di
sana, namanya Pak Jasril, aku akan menceritakannya padamu di lain
kesempatan.
Huft, sepertinya aku mulai lelah. Mungkin ada baiknya
aku rangkumkan saja, tempat-tempat lain yang aku kunjungi. Minang
fantasy, ini merupakan Waterpark terbesar di Padang Panjang. Jenjang
Seribu, lokasinya tak jauh dari Sianok--kampung halaman ayahnya. Pasar
Bawah dan Pasar Ateh. Pokoknya banyak deh. Eh, aku sudah bilang belum
ya, kalau aku merasa beruntung dimilikinya?
Tapi kurasa hanya
sampai di situlah masa-masa indahku, beberapa waktu setelah itu. Aku tak
lagi digunakan--jangan tanyakan aku. Aku tak tau sebabnya. Aku hanya
tersimpan di dalam tas selempangnya. Selama di dalam tas, aku sering
mencuri dengar kata-kata Lubuk Basung sering dilontarkan. Lagi, aku tak
tau apa artinya.
Lama setelah itu, aku merasa seolah dibangunkan
dari tidurku yang panjang. Aku sudah hampir mati rasa, aku sudah
kehilangan harapan bahwa aku akan kembali digunakan dan dikeluarkan dari
tempatku disembunyikan. Tapi secara tiba-tiba, ia menarikku--dan
memotretku. Bisakah ia jelaskan padaku, untuk apa?
Sekarang aku
kembali bisa melihat dunia luar. Tidakkah ia tau, bahwa aku sangat
senang? Mari kuberitahu padamu, aku berada di sebuah kamar kecil
seukuran 3x3, kamar ini bersih dan wangi. Di seberang dinding, aku dapat
melihat sebuah kalender dengan gambar anak-anak berpakaian gamis. Hey,
sekarang sudah bulan Juni ya? Waktu berjalan dengan begitu cepat. Kurasa
tak ada salahnya, jika aku berharap ia mengingat ulang tahun pertama
pertemuan kami? Ah, aku terlalu berharap.
Dan satu hal lagi, dari
tempat aku berada sekarang, aku bisa melihat kalau ia tampak sumringah,
sepertinya aku akan kembali dibawa untuk melihat hal-hal yang luar
biasa. Aku membayangkan Phuket, Amsterdam, dan oh...... bagaimana
mungkin aku tidak kepikiran Mekkah.
Tenang saja, jika semua itu menjadi nyata, kau lah orang pertama yang akan aku ceritakan tentang kemana ia membawaku.
Notes : Tulisan ini didedikasikan untuk rekan-rekan di Inforiau, juga
Bang Ical--terima kasih tunjuk ajarnya selama ini. Mapala (Mahasiswa
Penggiat Alam) Duri - Riau. Dan Jeprizol? Yunow huyuar >..<
Selesai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar