"Ma,
temani aku ke kamar mandi dong, aku takut," pintaku pada mama.
Namun mama malah marah, dan membentakku.
"Kau itu sudah besar, umurmu sudah delapan tahun. Apa sih yang kau
takutkan untuk ke kamar mandi, kau itu kan laki-laki."
Aku
menangis, dan menahan keinginanku untuk ke kamar mandi. Hari sudah malam, tapi
Abiku belum juga pulang. Abiku selalu pulang larut malam, aku bahkan hampir tak
pernah melihatnya di rumah. Tapi ia selalu ada saat aku bangun pagi, sambil menikmati
secangkir kopi hitam tanpa gula.
"Ma,
aku sudah tak tahan. Aku harus ke kamar mandi," kali ini suaraku lebih
keras.
Mamaku datang menghampiri, kukira ia akan
menemaniku ke kamar mandi, tapi aku salah, ia malah menjewer telingaku, dan
memukulku berkali-kali. "Kau mau jadi apa? menyusahkan orang saja hidupmu,
kau tak tahu ya, kalau sekarang ini aku susah bergerak, aku sudah mau
melahirkan."
Mama
terus memukulku tanpa ampun. Kata Abi, Mama lagi mengandung, dan sebentar lagi
aku akan punya adik, makanya perut Mama membesar. Tapi, sekarang Mama jadi
pemarah, ia sering memukul, menyubit, menjewer, dan menghardikku. Aku tak
tahan. Aku sering mengadu sama Abi, tapi Abi hanya diam.
Aku
terpipis di celana, sekarang ada genangan air di lantai.







