Sebelum mulai, saya mau jelasin dikit nich, kenapa akhirnya kisah berikut yang saya angkat jadi fanfic. Awalnya sih udah niat mau buat fanfic Harpot, tapi apa daya, begitu ngeliat karya Teh Irma, tulisan yang tadinya udah saya buat, saya robek kecil-kecil dan saya bakar hidup-hidup. Lalu kepikiran pula mau nulis fanpic cinta-cintaan, kok jadinya malah kepanjangan kayak surat wasiat, which is bagi penulis kayak saya yang jam tulisnya masih se-upil gajah, it's kinda boooring. Iya aja kalo ada yang mau baca sampe habis, palingan di skip skip skip a beat. Ntah bagaimana caranya, saya teringat ama
Prilly, dan voila...... jadilah cerita berikut, Prilly emang sumber inspirasi tanpa batas.
Prilly, dan voila...... jadilah cerita berikut, Prilly emang sumber inspirasi tanpa batas.
Moga kamu suka ya Dek Pril, tulisan ini Mz buat spesial untuk kamu. (Ris, lu kan orang minang. Kok gelarnya Mz?)
------
Doraemin the Movie 2 : Lost in Sumbar
Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali~...... nada dering hp Nobisa berbunyi.
"Siapa, Nob?" Tanya Doraemin pada Nobisa yang lagi asyik baca novel Asma Nadia--Catatan Hati Seorang Istri, the Sekuel.
"Biasa nih, Shizuki." Balas Nobisa, "Mau ngajakin main layangan, padahal di luar cuacanya hot gini."
"Meski terlihat feminim, hobi Shizuki emang extreme ya, mungkin doi mau buat kulitnya exotis kayak Rihamma," sahut Doraemin. "Eh, anak-anak lain pada kemana ya, Sunego, Jijaiyen ama Dekisugeng juga?"
"Tauk tuh, palingan lagi asyik maen Get Poor, you know lah Dor, semenjak masing-masing punya Advan Android, kita-kita jadi jarang ngumpul."
"Gila ya pengaruh teknologi, buat anak-anak jadi malas bersosialisasi secara langsung. Eh kita jalan-jalan yuk? Kemanaaa gitu, pake mesin waktu gue?" Ajak Doraemin bersemangat.
"Boleh juga tuh, gue sms dulu ya," Nobisa bergegas hendak mengirimkan pesan singkat.
"2015, dan kalian masih sms-an?" Doraemin nyegir.
"Iya, iya. Gue Line-in deh mereka semua. Puas lu dor?" Ketus Nobisa.
***
2786 detik kemudian, semua orang udah ngumpul di kamar Nobisa.
"Kita mau kemana sih, guys?" Tanya Shizuki penasaran.
"Kemana aja sih boyeh, asal ada kammmuh." Sahut Jijaiyen Manja.
"Plis deh Jay, lo itu bukan tipe gue." Shizuki buang muka.
"Kita ke Dumai yuk?" Tiba-tiba Sunego mengusulkan.
"Dumai, Ew, di mana tuh? Is that, even a town?" Sergah Shizuki dengan tampang jijik.
"Iya deh, iya. Aku selalu salah di matamu, Shiz." Isak Sunego.
"Eh gini deh, kita minta aja mesin waktunya Doraemin buat nganterin kita, ke suatu tempat, yang begitu kita membuka mata, kita bakal langsung bilang WAW secara bersamaan, setuju gak?" Sergah Dekisugeng.
"Saya suka, saya suka." Balas Doraemin sambil menirukan suara May-May di serial Lupin & Lipin. "Tapi sebelumnya......"
Tong Neng Nong Neng, "Kedongdong pengubah bahasa~..." ujar Doraemin sambil mengeluarkan kedondong busuk dari kantong ajaibnya.
"Nih, masing-masing makan satu ya. Untuk lu dua deh Jay, takut gak kenyang aja sih (Dor, lu kok main fisik?). Gunanya, di manapun kita dicampakkan mesin oleh waktu gue ntar, kita bakal langsung ngerti dan fasih berbahasa setempat."
***
2786 detik setelah itu, semua orang udah selesai memakan kedondong busuk tersebut. Tanpa buang-buang duit, mereka pun bergegas masuk ke dalam mesin waktu Doraemin.
"Semua ready ya guys, ingat, jangan buka mata dulu sebelum gue cubit kalian satu-persatu ntar begitu kita landing. Here we go~......" dan wooosh, mereka pun melesat menuju ke tempat antah-berantah.
Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan bunyi wing wing wing yang memekakkan telinga. "Gawat, gue lupa ngisi Pertamax nich. Oumaigoat!!! Kita bakal terlempar dan gak bisa balik nih." Seru Doraemin cemas sambil tetap menutup mata.
"Aaaaaaaaaaaa~......" teriak semua orang, sebelum akhirnya mereka terdorong keluar dan mendarat tidak mulus dengan ekor duluan. Tanpa aba-aba dan acara cubit-cubitan lagi, semua orang membuka mata mereka dan berteriak terkagum-kagum, "WAW." Dekisugeng pula, yang dikenal agak muslimah buru-buru mengucapkan, "SubhanAllah, pemandangan yang ada di hadapanku saat ini, sungguh indah..."
Dengan mulut masih menganga saking terpesonanya, Dekisugeng mendekati seorang gadis yang terakhir diketahui bernama Unirina, "di...di...dimana ini?" Tanya Dekisugeng bingung. "Ada Aqua?"
"Selamat datang di Jembatan Layang Kelok 9, Sumatera Barat." Kenalkan, nama gue Unirina.
***
Kemudian angle kamera menjadi semakin jauh, menampilkan sederet nama di layar TV sembari memutar lagu penutup.
Aku ingin terbang bebas, diii Jam Gadaaang. Hey, baling-baling bambu~...
Ang ang ang, aku sayang sekaliii, (APAAAAAA)
Doraemin~......
Ang ang ang, aku sayang sekaliii, (LEBIH KERASSS)
Doraemin~......
Ang ang ang, aku sayang sekaliii, (APAAAAAA)
Doraemin~......
Ang ang ang, aku sayang sekaliii, (LEBIH KERASSS)
Doraemin~......
"Shit, filmya bersambung ke Part 2, and I'm gonna blame Jeka Roling-to-the-deep for this." Gerutu Bg Man.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar